Aku Hanya Rindu, Kedamaian datang menyapaku...
Selamat Tahun Baru 2005...
Tsunami telah menyayat hati manusia. Dunia menangis. Dan kami pun ikut berduka untuk Aceh,
Air mata dan darah seakan terus membasahi Tanah Rencong. Dari perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah hingga konflik bersenjata antara pemerintah dan GAM. Kini giliran gempa dan Tsunami mengoyak Serambi Mekah.
Dan hanya dalam sekejap, Kini yang tersisa hanyalah kepedihan. Puluhan ribu mayat bergelimpangan di mana-mana. Ratusan ribu orang dari sekitar 4,2 juta penduduk di provinsi paling Barat itu tak lagi mempunyai tempat perlindungan. Tidur mereka pun sekarang beratap langit. Ironis, sangat ironis malah. Banyak pula orang yang kini hidup sebatang kara karena kehilangan sanak saudara
Air mata dan darah memang tak pernah berhenti membasahi Tanah Rencong. Pena sejarah mencatat, sejak ratusan tahun lampau, perjalanan rakyat Aceh memang tak lepas dari penderitaan. Mereka selalu menjadi korban peperangan. Rakyat Aceh jualah yang paling lama mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda.
Bagi rakyat Aceh, perang memang identik dengan jihad. Dengan semangat jihad inilah mereka bertempur untuk mengusir penjajah. Belanda pun mengakui rakyat Aceh gigih dalam bertempur hingga titik darah penghabisan. Tak mengherankan, bila satu per satu putra-putra terbaiknya berguguran dalam serangkaian pertempuran melawan penjajah.
Namun, hingga menjelang Indonesia merdeka, perlawanan rakyat Aceh melawan Belanda tak pernah padam. Ini termasuk melawan pendudukan Jepang. Bahkan, sumbangan rakyat Serambi Mekah terhadap Republik Indonesia yang baru lahir terbilang besar. Mereka mengumpulkan harta benda masing-masing yang kemudian dibelikan sebuah pesawat untuk dipersembahkan kepada pemerintah Indonesia.
Toh, setelah Indonesia merdeka dan Serambi Mekah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari republik ini, derita rakyat Aceh ternyata tak pernah berakhir. Dimulai dengan perlawanan Teungku Muhammad Daud Beureueh, 1953 sampai 1962. Disusul konflik Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang diprakarsai Hasan Tiro sejak 4 Desember 1976.
Konflik di Aceh bermula dari kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah pusat. Pusat bukan saja tidak memerhatikan Aceh, bahkan mengeksploitasi Aceh sebagai kawasan jaringan merah.
Nah, konflik berbau separatisme inilah yang membuat rakyat Aceh tak pernah memiliki rasa aman sepenuhnya. Bahkan, pemerintah saat itu --rezim Orde Baru-- memberlakukan Daerah Operasi Militer dari tahun 1989 sampai 1998. Sayangnya, pemerintah Megawati Sukarnoputri memberlakukan Darurat Militer pada 19 Mei 2003 meski status ini kemudian diturunkan menjadi Darurat Sipil pada 19 Mei 2004.
Perang saudara itu belum lagi usai, sekalipun darurat militer telah berubah menjadi darurat sipil. Darah masih terus mengalir, nyawa masih terus melayang.
Kini, belum sempat rasa trauma karena perperangan menghilang, kisah sedih itu pun kembali datang. Gempa dan terjangan gelombang Tsunami seakan melengkapi penderitaan rakyat Aceh. Air mata dan darah kembali membasahi Bumi Serambi Mekah. Rakyat Aceh kembali berguguran. Kali ini akibat kekuatan alam atas kehendak Tuhan yang memang tak mungkin dilawan.
Percayalah kepada Allah, dan bersyukurlah kepada-Nya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu brsedu sedan, berkeras hati . Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari. Berusaha dan yakinlah, karena kita masih diberi waktu untuk menuju ke pintu bahagia.
Wassalam,
Akhir Desember 2004
"aCehpO"
Aku Hanya Rindu, Kedamaian datang menyapaku...
Akankah kedamaian itu kan datang 'tuk menyapa hari2ku yang telah letih menanti kehadirannya, ato hanya sekedar impianku yg tiada pasti di negeri penantian, ato hanya sebuah ungkapan perasaanku karena kekesalan slama ini kurasakan? Cairo, Awal April 2005